Now Reading
Boikot Produk Perancis Adalah Ide yang Paling Non-Sense yang Saya Dengar

Boikot Produk Perancis Adalah Ide yang Paling Non-Sense yang Saya Dengar

Setelah komentar bernada islamofobia dan xenofobia dilontarkan dari Presiden Emmanuel Macron, ajakan untuk rame-rame boikot produk-produk dan merk-merk Perancis mulai tersebar di negara-negara Islam.

Ada Apa di Perancis?

GRANSEE, GERMANY – JUNE 29: French President Emmanuel Macron gives a joint press conference with German Chancellor Angela Merkel after talks in the grounds of Schloss Meseberg on June 29, 2020 in Gransee, Germany. The German Chancellor and French President met to discuss European Union funding during the Coronavirus pandemic. (Photo by Kay Nietfeld – Pool / Getty Images)

Kalau kamu ketinggalan berita, kurang begini ini dia recap nya. Beberapa pekan silam, Samuel Paty, seorang guru berusia 47 tahun, dipenggal dalam sebuah serangan terorisme setelah men-display karikatur satir yang menghina Nabi Muhammad di kelasnya. 

Membunuh itu satu hal, tapi ini memenggal kepala seseorang hingga tewas. Sang guru hanya berniat men-display karikatur ini dengan tujuan edukasi. Bahkan, Paty sempat juga berpesan bahwa jika ada Muslim di kelas, mereka diperkenankan untuk keluar karena konten yang akan disajikan berpotensi untuk melukai perasaan mereka. 

Aksi terorisme ini membangkitkan era baru usaha deradikalisasi di masyarakat Perancis. Presiden Emmanuel Macron mengambil aksi untuk menangkal ekstrimis-ekstrimis yang menggerayangi tubuh Islam. Lebih buruk lagi, Macron sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi. Secara terang-terangan, si President bilang kalau Islam-lah akar permasalahannya. 

Macron menentang serangan terorisme, tapi di satu sisi lain, dia juga mati-matian membela ‘hak’ warganya untuk mempublikasikan karikatur-karikatur bernada satir seperti Charlie Hebdo. 

Kemana Energi yang Sama?

WASHINGTON, DC – AUGUST 14: Salih Hudayar, founder of the East Turkistan National Awakening Movement, leads a rally outside the White House to urge the United States to end trade deals with China and take action to stop the oppression of the Uyghur and other Turkic peoples August 14, 2020 in Washington, DC. The ETNAM and East Turkistan Government in Exile (ETGE) groups submitted evidence to the international criminal court, calling for an investigation into senior Chinese officials, including Xi Jinping, for genocide and crimes against humanity. (Photo by Chip Somodevilla/Getty Images)

Komentar rasis dari Marcon menyulut amarah dan kontroversi di sana-sini. Beberapa, seperti Presiden Turki Tayep Erdogan, menyerukan untuk memboikot barang-barang dan merk-merk dagang asal Prancis. 

Menurut saya, ini non-sense. Tidak masuk akal, and it goes too far. 

Ada kurang lebih 6 juta Muslim di Perancis, atau sekitar 8% dari total populasi. Kebanyakan mereka adalah imigran yang jauh-jauh ingin kabur dari horor perang dan kelaparan di negara-negara mereka. 

Nggak nutup kemungkinan kalau mereka juga kerja 9-to-5 di brand-brand ini, entah jadi cleaning service atau manajer dan atasan. Jadi, tahu nggak sih kalau memboikot bakal berefek ke orang-orang ini?

Tahu nggak sih kalau orang yang membuat komentar rasis, President Emmanuel Macron, adalah orang yang berbeda dari mereka yang bekerja dan mencari nafkah di perusahaan-perusahaan ini?

Kita paling nggak suka generalisasi. Kita paling benci kalau dikotak-kotakkan dalam stereotip kalau Muslim ini entah tukang bunuh atau tukang maling. Tapi, kita juga memukul rata SEMUA merk dan brand dari Perancis, siapapun yang bekerja di sana, bahwa mereka semua adalah bagian dari ide kontroversialnya Macron. 

Ambil contoh deh: Garnier dari L’Oreal Perancis. Kalau di Indonesia, produk-produk Garnier diproduksi oleh PT. L’Oreal Indonesia (PT. Yasulor Indonesia) yang pusatnya di Jababeka, Cikarang. Dengan memboikot produk-produk Granier, sama saja kamu sudah berusaha merusak income para pekerja 9-to-5 dengan bayaran yang seadanya. 

Orang-orang ini juga punya keluarga, bahkan anak yang harus didukung. Sedangkan, kamu malah memboikot produk mereka karena seseorang yang kebetulan menjadi presiden dari negara asal perusahaan mereka. 

Mana energi yang sama ketika Saudi Arabia memimpin serangan udara yang mematikan di langit Yaman untuk menguatkan posisi kerajaan dalam proxy war melawan Iran? Mana energi yang sama ketika Saudi membantu pemberontak di Syria saat Perang Saudara yang membunuh kurang lebih 4.000 jiwa?

Mana energi yang sama ketika pemerintah Cina merencanakan cultural genocide besar-besaran melawan orang-orang di Uyghur? Sekarang sudah tahun 2020, tapi genosida masih saja tetap ada. 

Saya paham betul. Apa yang Macron bela adalah komik hinaan terhadap Nabi Muhammad. Tapi, ribuan dan jutaan orang sudah terdampak dari apa yang pemerintah Cina dan Saudi Arabia lakukan. Apa angka sebegitu besar nggak cukup untuk kamu menyerukan boikot?

Kenapa jadi cherry-picking begitu?

Kemana energinya? Tidak pernah tuh ada ceritanya demo dan protes boikot besar-besaran untuk produk-produk dari Cina dan Saudi Arabia. Kemana? Atau jangan-jangan, kamu tidak bisa hidup tanpa produk yang made in China. Atau, mungkin fakta kalau Saudi Arabia tidak se-holy yang kamu pikirkan terlalu tidak mengenakkan untuk kamu?

Tidak ada manusia yang pernah melewati diskriminasi untuk mempertahankan agamanya lebih dari Nabi Muhammad. Para Sahabat, apalagi Umar, sampai geram dibawanya. Bahkan, beliau se-keluarga pernah diboikot oleh Kaum Quraisy. Apakah beliau balas dendam dan menusuk dari belakang? Apakah beliau pernah menyerukan untuk boikot produk-produknya? 

Bahkan, hingga beliau wafat, baju besi beliau masih digadai di seorang Yahudi, kelompok manusia yang sama yang pernah menyakiti beliau di Madinah. 

Kebencian yang mindless dan baseless itu bodoh. Entah lah. Ironi dan hipokrit sekali. 

Kebebasan Berpendapat

ISTANBUL, TURKEY – OCTOBER 25: A boy holds a poster showing the portrait of French President Emmanuel Macron during a protest against French president Emmanuel Macron on October 25, 2020 in Istanbul, Turkey. People gathered to protest against the recent statements by French President Emmanuel Macron regarding the beheading of a teacher that displayed cartoons of Prophet Muhammad in his class and the closure of some mosques in France. (Photo by Chris McGrath/Getty Images)

Rasa marah dan kecewa itu wajar, tapi hemat saya, ini sudah keterlaluan. 

Saya juga shock dan geram seperti kamu, apalagi setelah mengingat-ingat rekam jejak Macron yang seperti itu. Seakan-akan seruan ekstrim ini seperti zaman 9/11 dulu ketika segala sesuatu yang berbau Islam akan dimarjinalkan. Komentar Marcon tidak menelurkan apa-apa kecuali racial stress dan tensi yang tinggi di berbagai elemen masyarakat Perancis. 

Just a week after Paty’s murder, two Hijabi women, aged 19 and 40, were stabbed and called ‘dirty Arabs’ in Paris amidst the tension. That’s just one example of what may unveil later in weeks following Macron’s comment. 

Satu minggu setelah kematian Paty, dua wanita Hijabi berusia 19 dan 40 ditusuk dan dipanggil ‘dirty Arabs’ di Paris akibat tensi ini. Ini hanya satu dari mungkin banyak contoh lagi yang bakal terungkap di kemudian hari setelah komentar Macron. 

Tapi, here’s a thing about freedom of speech. Kebebasan berpendapat adalah pisau bermata dua yang terkadang melakukan lebih banyak hal buruk daripada yang baik, and vice versa. Secara personal, saya lebih memilih hidup di negara yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi yang mutlak daripada negara yang tempat di mana mulut saya ditutup rapat-rapat. 

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll To Top