Now Reading
Jangan Masuk ke Pesantren

Jangan Masuk ke Pesantren

Jangan masuk ke pesantren sejak usia dini.

Ingat ya, keyword nya di sini adalah ‘sejak usia dini.’

Sedikit disclaimer, tulisan ini tidak dibuat untuk men-diskredit-kan siapapun. Semua kembali ke pribadi masing-masing, dan ke cara parenting masing-masing. At the end of the day, toh pengalaman pribadi nggak selalu linear dengan pengalaman umum. Hanya sedikit berbagi, kok.

Sedikit Latar Belakang

Ulet Ifansasti/Getty Images

Saya menghabiskan kurang lebih 12 tahun di pondok pesantren, plus satu tahun pengabdian. Saya mulai masuk pesantren sejak kelas 3 SD (2006) karena tempatnya menyediakan pendidikan gratis untuk anak-anak yang nir-ayah alias yatim. Lugunya, justru saya yang keukeuh ingin sekolah di sana.

Selama 4 tahun di jenjang SD dan 2.5 tahun di jenjang SMP (setengah karena saya sempat di-drop out, haha), jadwal rata-rata saya dijenguk oleh orang tua waktu itu hanya sebulan sekali. Se-bulan sekali, dalam beberapa jam. Jarang sekali orang tua bisa menginap.

Lanjut ke jenjang SMA, saya yang waktu itu belum tahu ingin jadi apa kalau sudah besar, memutuskan untuk merantau ke pesantren lain yang terletak di provinsi yang berbeda. Dengan iming-iming rekognisi dari pihak internasional, dan sekian alumni bisa lulus ke universitas anu dan ini dalam se-tahun, saya tergiur, dong.

Dengan pindah ke lain provinsi, hubungan saya dengan orang tua juga semakin jarang. Kalau beruntung, orang tua saya bakal menjenguk sekali dalam satu semester. Itu juga hanya ibu dan adik, karena (alm.) ayah tiri pasti sibuk. Walhasil, telfon-an tiap akhir bulan hanya berujung: kalau tidak minta uang jajan, ya minta kirim makanan. Kenapa? Karena memang sudah kurang bonding sejak kelas 3 SD.

Saat kelas 11 (2 SMA), saya mulai banting stir. Awalnya, saya masuk ke pesantren dengan tujuan untuk tembus ke Timur Tengah & mengenyam pendidikan di sana. Saya mulai beralih ingin menjadi jurnalis. Tentu, bukan hal yang mudah untuk tembus PTN/PTS di Indonesia dengan ijazah MA Keagamaan, let alone abroad universities.

Setelah lulus SMA dan pengabdian, saya mulai dilepas ke dunia luar. 6 bulan saya habiskan untuk daftar beasiswa di sana-sini dan ditolak di sana-sini. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengadu nasib di ibu kota dan hidup mandiri hingga sekarang.

Pesantren: Dulu dan Sekarang

Ulet Ifansasti/Getty Images

Sekarang, saya genap 22 tahun. Saya kelahiran 1998, jadi kalau 2006 (tahun saya masuk pesantren kelas 3 SD) dikurangi 1998, saya mulai nyantri sejak umur 8 tahun. 54% kehidupan saya habiskan di balik pagar-pagar kawat pesantren. Setengah lebih hidup saya habiskan jauh dari orang tua.

Bukan berniat untuk menyalahkan siapapun, toh ini semua berawal dari keinginan lugu saya ketika diakhir kelas 2 SD tahun 2005/2006 silam. Tapi, anak itu selalu butuh bonding yang kuat dengan orang tua mereka.

Ketika anak sejak kecil dipisah dari orang tua dengan alasan apapun, hubungan parents-and-child bakal semakin renggang. Bonding time nya berkurang. Musyrifin atau pengurus asrama nggak bakal bisa menggantikan peran orang tua. Never in a million years. Walaupun toh, anak dikunjungi setiap dua atau satu pekan, usia anak SD itu usia yang paling cocok untuk mengeratkan hubungan antar orangtua dan anak.

Apakah memondok-pesantrenkan saya sejak kelas 3 SD menjadikan saya orang yang paling relijius? Tidak. Jadi orang yang paling paham Quran dan Hadis? Tidak juga, toh.

Don’t get me wrong. Saya bukan bilang jangan masuk pesantren sama sekali. Toh, kalau bukan karena 12 tahun hidup sendiri, saya tidak mungkin bisa berdikari di Jakarta. Saya nggak bakal faham basis survival skills. Saya punya banyak teman-teman hebat juga dari pesantren. Pengalaman yang saya punya juga unik, dan setidaknya, saya punya lebih dari cukup bekal untuk tahu hal-hal yang fundamentalis dalam agama.

Tapi, masuk pesantren lah saat mental sudah pas. Usia sudah cukup. Betul, kemandirian itu perlu dipupuk sejak dini, tapi saya rasa golden quality time bersaama orang tua itu pengalaman yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau saja saya bisa me-rewind waktu, saya rasa saya ingin do things differently.

I don’t have the best relationship with my parents, and being exposed to a boarding school education since a very young age contributed in it.

Tapi, ya, seperti yang saya bilang, semua kembali ke diri masing-masing dan cara parenting masing-masing. Menurut hemat saya sih, hidup mandiri sejak kecil bisa dipupuk dengan cara-cara lain tanpa harus mengorbankan bonding time antara anak dan orang tua.

Ladang Bisnis Baru

Ulet Ifansasti/Getty Images

Salah satu hal yang saya sayangkan adalah: kenapa semakin kesini, jarang rasanya menemukan pesantren yang murah?

Sejak zaman kolonial Belanda, pe-santri-an dibentuk agar murid-murid dari berbagai penjuru yang ingin mendalami agama bisa duduk bareng kyai-kyai di padepokan mereka dengan biaya yang affordable.

Semakin kesini, rasanya semakin sulit menemukan pesantren dengan uang bulanan (SPP, uang wakaf bulanan, atau apalah dinamakannya) yang tidak lebih murah dari sekolah swasta.

Pada akhirnya, walaupun tidak bermaksud menggeneralisasi, yang bisa masuk pesantren adalah anak-anak yang riot yang orangtua nya baru belajar ngaji namun terlalu sibuk untuk mengawasi anak. Seakan pesantren dijadikan seperti tempat penitipan anak, agar dipoles jadi lebih baik.

Padahal, tidak seharusnya seperti itu. Pesantren bukan semata-mata bengkel akhlak, tinggal bayar SPP, ketok mejik, langsung cling. Guru (ustadz) saya pun sering bilang kalau fasilitas semakin baik, tapi lulusan alumni semakin anjlok. Miris, kan, kalau uang bulanan terus naik, fasilitas terus dimanjakan, tapi cetakannya rapuh?

Lagi-lagi, semua kembali ke diri masing-masing. Seperti tanaman, kita semua tumbuh dengan background yang berbeda, priviledge yang berbeda, mindset yang berbeda, dan goal yang berbeda. Tempat di mana kita tidak menjamin seberapa kadar baik kualitas hablumminallah dan hablumminannas kita.

Ah, sudahlah. Kebanyakan nggrutu tidak baik. Either way, Selamat Hari Santri Nasional!

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll To Top