Now Reading
Waktu Berlalu

Waktu Berlalu

Aneh, menyeramkan, tapi penuh misteri. Seperti ini lah waktu berlari. Tulisan ini adalah sedikit selebrasi untuk orang-orang yang sudah membantu saya berdiri di atas kaki sendiri.

Terima kasih. Setelah semua yang kalian kasihi, hanya ini yang bisa saya beri.

Saya masih ingat, 7 Oktober 2018 silam, saya pernah mengantar teman, Bang Tomi, ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersama Mbak Ayse, Teh Sofia, dan Mbak Ade. Waktu itu, saya masih culun banget. Tidak punya income, tapi cita-cita setinggi langit.

Sebulan kemudian, orang tua saya bercerai. Keadaan sangat kacau di rumah. Tensi memuncak hingga akhir Desember 2018, saya memutuskan untuk kabur dan keluar dari rumah. Keluar dari lingkungan yang toxic. Padahal, waktu itu saya hanya punya uang 100 atau 200 ribu rupiah.

“Mau tidur di mana? Mau makan apa?,” saya sama sekali tidak punya jawabannya.

Akhirnya, saya menginap di kosan milik teman saya, Rois Amin. Mantan ketua kamar saya waktu di pesantren dulu, Rois Feri, sampai meminjamkan motornya untuk saya cari kerja di Jakarta, plus uang sekitar 50,000.

Akhirnya, dapat juga pekerjaan: jadi admin di bandar pulsa. Tapi, baru satu minggu training dan beberapa jam diangkat jadi karyawan tetap, saya dipecat karena “attitude problem.” Padahal, mereka aja yang gila respect.

Bingung. Linglung. Pasrah. “Sekeras ini kah mencari kerja?,” batin hati. “Mau tidur di mana? Mau makan apa?,” pertanyaan-pertanyaan ini kembali lagi, dan lagi-lagi, saya tidak tahu jawabannya.

Hingga akhirnya, saya bisa menginap di rumah teman saya, Arkan, untuk se-malam. Besok harinya, saya langsung diantar ke salah satu TV swasta untuk lanjut hunting pekerjaan dan diberi sekian ratus rupiah.

Saya mulai numpang ke kos-an teman-teman LIPIA di Pasar Minggu. Ada Sulton, Rama, Alif, Uwais. Setelah sebulan nggak bayar, akhirnya saya mulai menetap di kosan itu. Bukan kosan yang mewah juga. Kalau sedang ramai, kita bareng-bareng tidur di lantai “cuma” beralaskan kasur tipis.

April 2019, saya pindah ke siagabencana.com. Di sini, saya belajar banyak dari duduk bareng orang-orang hebat dari BNPB, BMKG, UNESCO, dan banyak lagi. Di sini, kita bikin podcast, video edukasi, review produk, event-event kebencanaan, hingga saya mendapatkan priviledge untuk ikut ekspedisi bersama BNPB di bulan Agustus 2019.

Saya berkata pada diri sendiri, “Ini dia. Rencana saya berhasil. This is working out.”

Ternyata, takdir tidak berpikir semudah itu. Ayah tiri saya meninggal Mei 2019 silam. Saya yang berada di tengah-tengah tidak tahu harus merasakan apa. Apakah saya harus sedih? Apakah saya harus senang? Apakah saya harus marah?

Mungkin kecewa adalah kata yang lebih tepat. Kecewa karena tidak tahu harus merasakan apa. Kecewa karena selama beliau masih hidup, saya “terlalu” percaya kalau kesempatan untuk berbaikan akan selalu ada, walapun sangat nihil.

I felt numb.

Ini titik nadir saya. Waktu itu, teman-teman sedang libur, jadi hanya ada saya sendiri di kosan. Sepi dan sendiri. Tidak tahu ingin bicara ke siapa. Saya sendiri nggak ngambil cuti di kantor karena, ya, buat apa? Pikir saya, “Apakah dengan cuti beliau bisa kembali?”

Saya mulai merangkak lagi dari nol. Benar-benar dari nol. Di samping sisi finansial yang sangat hancur berantakan karena waktu itu, saya masih hidup dari bulan-ke-bulan dengan membuka-tutup hutang, saya merasa kosong secara mental. Serasa tidak ada jalan keluar, karena toh saya juga bukan orang-orang yang ber-priviledge amat. Uang tidak punya, dibilang pintar juga biasa-biasa saja.

Average to mediocre, at best.

Fast forward ke 2021, setelah tahun-tahun penuh perjuangan, sekarang saya sedang mengenyam pendidikan bachelor in journalism dengan beasiswa dari pemerintah. Alhamdulillah, puji syukur. Rafly di tahun 2018 dan 2019 adalah Rafly yang dipecat kurang dari satu hari karena ‘attitude problem.’ Rafly di tahun 2018 dan 2019 adalah Rafly yang harus minum obat tidur selama berminggu-minggu setelah ditinggal wafat ayah tiri yang dia sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Rafly di tahun 2018 dan 2019 adalah Rafly yang mentally unhinged dan harus gali lubang-tutup lubang setiap bulan setelah hari gajian.

Rafly di 2018 dan 2019 tidak akan pernah kepikiran bahwa dia bisa melangkah sejauh ini. Who would’ve thought?

I’ve been through different lows of hell, and I am proud for coming this far.

Jadi, saya ingin berterima kasih kepada semuanya. Rois Amin, Rois Feri, Arkan, Sulton, Rama, Alif, Uwais, Baani, dan semuanya dari “Gang Sebret Pasar Minggu,” Bu Sena dari siagabencana.com atas kesempatannya, Pak Qory, Pak Tasriel, Pak Seto, Pak Ghofur, Mbak Jijah, Mbak Furi, Mutia, Teh Sofi, Fara, Hapso, Mbak Ayse, Mbak Ade, Epel, Syifa, Hisyam, Fathar, Elan, Ibnu, Miftah, teman-teman yang sudah mau mendengarkan dan menjadi batu loncatan saya, dan nama-nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Terima kasih, sekali lagi. Semoga kita dipertemukan lagi di lain kali. Jika tidak hari ini atau esok nanti, semoga kehidupan kita semua diberkahi, as we’re navigating through different walks of life.

I have lost a lot and learned a lot for the past few years, but I am beyond grateful to know you all.

Cluj-Napoca, Romania, yang berselimut salju tebal nan ganas. Ditemani sarmale dan segelas coklat panas.

Rafly.

View Comments (4)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll To Top